Berawal dari sebuah mimpi yang kukira tak mungkin terjadi, tapi Allah kasih itu. Berawal dari kata "iseng-iseng aja" untuk nulis cita-cita yang ingin ku capai dalam sebuah kertas yang ku masukkan ke dalam binder buku catatan kuliahku tepat di halaman paling depan. Banyak impian di sana, alhamdulillaah tahun 2017 lalu, salah satunya tercapai. Memang benar, ketika kita sangat menginginkan sesuatu dan terus minta kepada Allah, mimpi itu in syaa Allaah tercapai. Ya, Pastinya juga dibarengi dengan ikhtiar.
Tepat pada akhir Bulan Juli 2017, salah satu mimpi itu tercapai. Untuk pertama kalinya, menginjakan kaki di Tanah Jawa (ya, maklum anak Bugis, excited banget sama Jawa). Bertepatan dengan acara Musabaqah Tilawatil Qur'an Mahasiswa Nasional (MTQMN) ke XV tahun 2017, menjadi salah satu kafilah dari STT Migas Balikpapan. Syukur yang tak henti-hentinya ku ucapkan pada saat itu, hingga air mata tak lagi mampu ku bendung. Walaupun sebelum berangkat, banyak sekali konflik yang terjadi. Hingga aku merasa, sepertinya tidak akan jadi berangkat. Mulai dari daftar secara online, harus bolak-balik kampus untuk bisa mendaftar melalui bidang Kemahasiswaan. Karena memang daftarnya harus dari kampus, tidak bisa secara mandiri. alhamdulillaah.. pada akhirnya semua bisa terdaftar.
Selanjutnya, masalah mengenai dana untuk berangkat kesana, beberapa dari kami, ada yang tak mampu membayar untuk biaya transport. Hingga akhirnya kami membuat proposal pengajuan dana ke kampus. Tapi, karena kami terlambat mengurusnya, maka pencairan danapun juga lebih lama. Hingga H-2 jelang keberangkatan kami, diputuskan oleh official bahwa kami batal untuk mengikuti lomba tersebut. Karena jika ada 1 orang saja yang tidak bisa berangkat, maka semua orang tidak bisa berangkat. Perasaan pada saat itu sangat tidak karuan. Sedih, kecewa, deg-degan, dan perasaan lainnya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa pasrah kepada Allah, mungkin Allah punya rencana yang lebih baik daripada keinginanku. Pada H-1, official kami mengabarkan bahwa kami mendapat bantuan langsung dari yayasan, sehingga semua orang bisa pergi. alhamdulillaah.. jadi kami persiapan H-1 itu dengan segala hal.
Sampailah untuk pertama kalinya menginjakan kaki di Tanah Jawa. Wah, ini ya yang namanya Surabaya. Senyum sumringahku melihat sekitar. Lalu ku dapati pula peserta MTQ dari kota-kota lainnya, seperti Universitas Medan, Syiah Koala, Universitas Sumatera Utara dan lain sebagainya. Sedikit minder dengan mereka yang terlihat luar biasa.
Sampailah untuk pertama kalinya menginjakan kaki di Tanah Jawa. Wah, ini ya yang namanya Surabaya. Senyum sumringahku melihat sekitar. Lalu ku dapati pula peserta MTQ dari kota-kota lainnya, seperti Universitas Medan, Syiah Koala, Universitas Sumatera Utara dan lain sebagainya. Sedikit minder dengan mereka yang terlihat luar biasa.
Kami melanjutkan perjalanan dari Surabaya menuju Malang dengan menggunakan jasa travel. Sepanjang jalan tak henti-hentinya ku perhatikan sekelilingku, hingga kami melewati Sidoarjo. Driver yang mengantar kami menunjukkan tempat terjadinya lumpur Lapindo. Lalu, kami berhenti sejenak untuk sekedar melihat tempat tersebut, walaupun tidak sampai ke pusatnya. Kami hanya berada di pinggiran saja, karena mengingat waktu yang sudah hampir sore. Aku sangat excited melihat rel kereta api yang ada di depan mata. Belum pernah sebelumnya melihat kereta api secara langsung (maklum di Balikpapan kan gak ada kereta).
Akhirnya kami sampai di kota Malang, guyuran hujanpun menyambut kedatangan kami. Malang ternyata dingin ya... (hehehe.. :D) dijemput oleh LO , kami langsung diantarkan menuju asrama di Universitas Maulana Malik. Dengan kondisi tubuh yang sangat lelah, kami mulai masuk ke dalam asrama. Ternyata kami sekamar dengan kafilah dari Universitas Pendidikan Indonesia. Mereka sangat ramah, lembut dari cara berbicaranya. Ternyata dari Bandung. Kami istirahat sejenak sambil menyusun pakaian di dalam lemari yang telah disiapkan dan berberes-beres.
Akhirnya kami sampai di kota Malang, guyuran hujanpun menyambut kedatangan kami. Malang ternyata dingin ya... (hehehe.. :D) dijemput oleh LO , kami langsung diantarkan menuju asrama di Universitas Maulana Malik. Dengan kondisi tubuh yang sangat lelah, kami mulai masuk ke dalam asrama. Ternyata kami sekamar dengan kafilah dari Universitas Pendidikan Indonesia. Mereka sangat ramah, lembut dari cara berbicaranya. Ternyata dari Bandung. Kami istirahat sejenak sambil menyusun pakaian di dalam lemari yang telah disiapkan dan berberes-beres.
Pada hari itu, hujan mengguyur kota Malang dari siang hingga malam hari. Bagi kami yang orang Balikpapan, pasti merasa sangat kedinginan. Karena atmosfer di Malang berbeda dengan Balikpapan. Kami keluar untuk mencari makan malam, Soto Lamongan yang menjadi menu malam kami. Yaa cukup menghangatkan tubuh dengan sruput teh hangat yang ikut menemani.
Esok harinya, merupakan hari pertama dimulainya MTQ, dimulai dengan Pawai Ta'aruf, yaitu pawai yang diselenggarakan untuk mengenalkan kafilah-kafilah yang datang dari berbagai Universitas/Perguruan Tinggi se-Indonesia. Banyak sekali pesertanya. Kami berjalan dari Universitas Negeri Malang menuju Universitas Brawijaya. Jarak yang tidak terlalu jauh antara dua Universitas tersebut. Pagi itu, sepanjang jalan dipenuhi oleh seluruh kafilah MTQ yang sedang melakukan Pawai Ta'aruf. Juga didukung oleh Siswa/siswi SD yang ada didekat Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya.
Setelah Pawai Ta'aruf selesai, akhirnya kami kembali ke asrama dan beristirahat untuk pembukaan MTQMN di malam hari. Pembukaan diselenggarakan di Universitas Brawijaya. Dengan tampilan panggungnya yang sangat luar biasa. Dihiasi dengan berbagai macam bunga-bunga berwarna-warni dan semua itu bunganya asli, bukan yang imitasi. Pada saat itu, aku hanya melihat sekelilingku, memperhatikan setiap hal yang ada disana dan masih tidak percaya aku telah sampai disana. Bertemu dengan semua mahasiswa yang luar biasa dari kampus mereka. Namun sayang, aku tak bisa datang diacara pembukaan MTQMN itu, karena harus persiapan tampil esok harinya. Jadi hanya aku sendiri di dalam kamar, berlatih untuk tampil esok harinya.
Perasaan deg-degan itu pasti ada ya, merasa nervous melihat peserta yang tampil bagus-bagus. Merdu-merdu suaranya, bahkan hafalannya pun lancar. Apalah aku bila dibandingkan dengan mereka. Tapi, aku yakinkan pada diri sendiri, aku pasti bisa. Untuk apapun yang terjadi saat di mimbar, itu semua kehendak Allah. Aku memang tak mengharapkan jadi juara, aku hanya ingin bisa menambah pengalaman, mendapat teman-teman baru, dan bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti mereka. Sungguh aku takjub dengan mereka, terutama peserta yang berasal dari Indonesia bagian Timur, Papua. Seperti yang kita ketahui mereka kebanyakan disana non muslim, tapi kafilah yang berasal dari Papua tersebut, mampu menunjukkan kalau mereka bisa. Bahkan mereka mendapat penghargaan dari panitia karena kafilah yang pertama kali sampai di Malang, padahal tempat mereka sangat jauh, agak dipedalaman.
Aku tampil di hari kedua MTQMN, sedangkan teman-temanku yang sama-sama dari STT Migas tampil di hari esoknya. Jadi, pada hari berikutnya aku hanya menonton dan mensupport mereka sambil mengelilingi bazar yang ada di arena MTQMN. Berbagai jenis makanan, minuman, pakaian, dan accessories lainnya khas dari Malang dan merchandise MTQMN. Sangat ramai.
Karena lombanya dilaksanakan selama kurang lebih 1 pekan, setelah kami semua tampil, kami memutuskan untuk berkeliling kota Malang. Dengan fasilitas yang telah disediakan oleh Pemerintah Kota Malang, kami digratiskan untuk naik bis (lupa namanya apa... hehe) berkeliling Kota Malang. Mulai dari kampung warna-warni, pasar tradisional, melewati beberapa kampus, juga beberapa daerah lainnya. Oh Malang...... (jadi kangen Kota Malang... hehe :D)
Selain berkeliling di Kota Malang, mbak LO kami yaitu mbak Dina dan mbak Aida mengajak kami berjalan-jalan ke tempat lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Paralayang, di Batu Malang. Pada siang hari dengan menyewa sepeda motor, kami berangkat menuju kota Batu dengan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Suhu di kota Batu sendiri dapat mencapai 19 derajat celcius. Yaa... sangat dingin. Walaupun sudah memakai jaket tebal, hingga kami sampai di Paralayang. Mengambil beberapa gambar pemandangan diatas bukit, terlihat kota Batu yang sangat indah. Tak terasa maghrib pun tiba, setelah cukup mengambil gambar, kami putuskan sholat dahulu lalu kami kembali ke Malang.
Sebelum sampai ke Malang, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati kuliner kota Batu di alun-alun kota Batu. Aku pun mencoba untuk naik Biang Lala (pertama kalinya naik Biang Lala). Sungguh menakjubkan melihat kota dari atas dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip. Lalu menikmati jajanan yang ada di alun-alun, pertama kali makan Sempol. Sempol menjadi makanan yang mengingatkanku pada Malang, hehe... :D. Makanan sejenis dengan Salome, tapi bentuknya tidak bulat, langsung menyatu dengan tusuk bambunya (sulit diekspresikan dengan kata-kata). Setelah puas berkeliling alun-alun kota Batu, kami memutuskan untuk kembali ke asrama, karena hari sudah malam.
Perasaan deg-degan itu pasti ada ya, merasa nervous melihat peserta yang tampil bagus-bagus. Merdu-merdu suaranya, bahkan hafalannya pun lancar. Apalah aku bila dibandingkan dengan mereka. Tapi, aku yakinkan pada diri sendiri, aku pasti bisa. Untuk apapun yang terjadi saat di mimbar, itu semua kehendak Allah. Aku memang tak mengharapkan jadi juara, aku hanya ingin bisa menambah pengalaman, mendapat teman-teman baru, dan bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti mereka. Sungguh aku takjub dengan mereka, terutama peserta yang berasal dari Indonesia bagian Timur, Papua. Seperti yang kita ketahui mereka kebanyakan disana non muslim, tapi kafilah yang berasal dari Papua tersebut, mampu menunjukkan kalau mereka bisa. Bahkan mereka mendapat penghargaan dari panitia karena kafilah yang pertama kali sampai di Malang, padahal tempat mereka sangat jauh, agak dipedalaman.
Aku tampil di hari kedua MTQMN, sedangkan teman-temanku yang sama-sama dari STT Migas tampil di hari esoknya. Jadi, pada hari berikutnya aku hanya menonton dan mensupport mereka sambil mengelilingi bazar yang ada di arena MTQMN. Berbagai jenis makanan, minuman, pakaian, dan accessories lainnya khas dari Malang dan merchandise MTQMN. Sangat ramai.
Karena lombanya dilaksanakan selama kurang lebih 1 pekan, setelah kami semua tampil, kami memutuskan untuk berkeliling kota Malang. Dengan fasilitas yang telah disediakan oleh Pemerintah Kota Malang, kami digratiskan untuk naik bis (lupa namanya apa... hehe) berkeliling Kota Malang. Mulai dari kampung warna-warni, pasar tradisional, melewati beberapa kampus, juga beberapa daerah lainnya. Oh Malang...... (jadi kangen Kota Malang... hehe :D)
Selain berkeliling di Kota Malang, mbak LO kami yaitu mbak Dina dan mbak Aida mengajak kami berjalan-jalan ke tempat lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Paralayang, di Batu Malang. Pada siang hari dengan menyewa sepeda motor, kami berangkat menuju kota Batu dengan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Suhu di kota Batu sendiri dapat mencapai 19 derajat celcius. Yaa... sangat dingin. Walaupun sudah memakai jaket tebal, hingga kami sampai di Paralayang. Mengambil beberapa gambar pemandangan diatas bukit, terlihat kota Batu yang sangat indah. Tak terasa maghrib pun tiba, setelah cukup mengambil gambar, kami putuskan sholat dahulu lalu kami kembali ke Malang.
Sebelum sampai ke Malang, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati kuliner kota Batu di alun-alun kota Batu. Aku pun mencoba untuk naik Biang Lala (pertama kalinya naik Biang Lala). Sungguh menakjubkan melihat kota dari atas dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip. Lalu menikmati jajanan yang ada di alun-alun, pertama kali makan Sempol. Sempol menjadi makanan yang mengingatkanku pada Malang, hehe... :D. Makanan sejenis dengan Salome, tapi bentuknya tidak bulat, langsung menyatu dengan tusuk bambunya (sulit diekspresikan dengan kata-kata). Setelah puas berkeliling alun-alun kota Batu, kami memutuskan untuk kembali ke asrama, karena hari sudah malam.
~~~
Setelah sampai di asrama, kami langsung beristirahat. Cukup melelahkan berjalan-jalan seharian di Malang. Satu yang aku sangat senangi berada di asrama, aku bisa mendengarkan suara merdu dari para Qori'ah yang sedang berlatih tilawah. Saat mereka membaca Al-Qur'an, sangat menenangkan hati. Sepanjang malam aku dengarkan suara mereka. Maa Syaa Allah, ciptaan Allah itu sangat luar biasa. Bahkan teman sekamarku pun, Maa Syaa Allah... Suaranya merdu sekali.. Jadi kalau bisa dikatakan selama 1 pekan di asrama, hanya ayat-ayat suci Al-Qur'an yang bergema di dalam asrama. Pada waktu itu sangat pas dengan keadaan iman yang bisa dikatakan sedang futur. Aku sangat bersyukur, Allah telah mengizinkanku agar dapat bertemu dengan mereka.
Selain pergi ke kota Batu, kami juga pergi ke Selecta. Selecta merupakan tempat wisata dengan berbagai jenis bunga berwarna-warni, beberapa jenis permainan, kolam renang, bahkan juga tersedia pasar di sana.
Sampai malam penutupan pun tiba, tak terasa 1 pekan kami berada di Malang. Juga alhamdulillaah terwujud keinginan untuk bisa merasakan kehidupan di asrama seperti apa. Karena selama ini selalu bersama dengan orang tua, tidak pernah jauh dari mereka. Malam Penutupan MTQMN ke XV tahun 2017 sangat meriah, dilaksanakan di Universitas Negeri Malang. Banyak penampilan dari Qori'/Qor'ah dari segala penjuru Nusantara. Maa Syaa Allah... Air mata ini tak henti-hentinya jatuh, sangat terharu. Benar-benar merasakan ketenangan hati yang luar biasa. Dan berdo'a dalam hati, Yaa Allah pertemukanlah kembali hamba dengan mereka di akhirat nanti. Keberkahan bisa dirasakan dalam gedung itu.
Sungguh... banyak cerita di Malang. Perjalanan bersama dengan Al-Qur'an dan para Ahlul Qur'an In syaa Allah..
Sekian dulu yaa cerita tentang MTQMN ke XV tahun 2017... :)
Sampai malam penutupan pun tiba, tak terasa 1 pekan kami berada di Malang. Juga alhamdulillaah terwujud keinginan untuk bisa merasakan kehidupan di asrama seperti apa. Karena selama ini selalu bersama dengan orang tua, tidak pernah jauh dari mereka. Malam Penutupan MTQMN ke XV tahun 2017 sangat meriah, dilaksanakan di Universitas Negeri Malang. Banyak penampilan dari Qori'/Qor'ah dari segala penjuru Nusantara. Maa Syaa Allah... Air mata ini tak henti-hentinya jatuh, sangat terharu. Benar-benar merasakan ketenangan hati yang luar biasa. Dan berdo'a dalam hati, Yaa Allah pertemukanlah kembali hamba dengan mereka di akhirat nanti. Keberkahan bisa dirasakan dalam gedung itu.
Sungguh... banyak cerita di Malang. Perjalanan bersama dengan Al-Qur'an dan para Ahlul Qur'an In syaa Allah..
Sekian dulu yaa cerita tentang MTQMN ke XV tahun 2017... :)






